Dalam Panji Masyarakat no. 271 tgl. 15 Mei 1979 halaman 26 tercantum tulisan Waheeduddin Khan dari buku "Al Muslimun Bainal Madhi, Hahir Wal Musttaqbal” diterbitkan oleh Mukhtar Islami, Cairo 1978, diterjemahkan oleh Riyal Ka'bah. Sebagian dari tulisan itu adalah sebagai berikut:
“...Pada akhir abad kc 19 muncul beberapa gerakan Islam. Sangat disayangkan gerakan-gerakan yang lahir ini pada umumnya hanya bermotivasi emosi. Gerakan yang bermotivasi positif hampir tidak ada sama sekali. Campur tangan pihak asing terhadap masyarakat Islam telah melahirkan bermacam-mscam problematika. Sebagai respon terhadap situasi semacam itu, banyak orang terdorong untuk mengadakan gerakan Islam. Jadi pada hakekatnya gerakan ini lahir karena faktor luar, bukan dari kesadaran yang timbul dari ajaran Islam itu sendiri.
Gerakan yang bermotivasi emosi ini banyak macamnya. Untuk mengkaji masalah ini kita dapat membaginya dalam empat bentuk :
- Gerakan Berkonfrontasi.
- Gerakan Konservatif.
- Gerakan Revival dan
- Gerakan Membangun.
l. Gerakan Berkonfrontasi.
Gerakan berkonfrontasi magambil bentuk sebagai gerakan kemerdekaan berpolitik. Mulai dari zaman Jamaluddin Al Afghani (1838-1894 sampai ke zaman Abul Kalam Azad (1888-1958). Kita telah melahirkan tokoh model ini dalam jumlah cukup banyak. Pidato pidato dan artikel-artikel yang mereka tulis telah menggerakkan hati dan semangat umat Islam. Al Afghani terkenal dengan ucapanya : “Mesir untuk orang Mesir”. Sulaiman Al Baruni semasa pendudukan Itali di Libia terkenal dengan semboyannya yang berbunyi:”Lebih baik mati sekarang sebagai patriot dari pada mati besok sebagai pengecut”
Semua tokoh politik mengumandangkan semboyan yang sama. Untuk menyingkirkan pengaruh asing, telah banyak jiwa yang korban dan tak sedikit kerugian yang telah diderita. Perjuangan untuk mengusir penjajahan akhirnya berhasil, tetapi rahasia kemenangan sebenarnya adalah karena telah berantakannya kekuatan negara-negara penjajah itu sendiri, terutama semasa perang dunia pertama dan kedua.
Korban jiwa yang telah diberikan oleh sejuta syuhada Aljazair dan dua ratus ribu syuhada India tidaklah sebanding dengan hasil perjuangan yang telah dicapai. Umat Islam masih saja dikontrol oleh pihak Barat. Perbedaan satu-satunya ialah dulunya mereka menguasai sektor politik dan militer, sekarang merekamenguasai sektor ekonomi dan industri. Penjajahan bentuk baru ini lebih dahsyat lagi daripada penjajahan bentuk lama. Kita tak dapat mengatakan bahwa policy negara-negara Islam sekarang ini sebagai terlepas sama sekali dari pengaruh asing.
Untuk pertahanan, negara-negara Islam harus rnembeli senjata dari pihak Barat yang juga memberikan bantuan teknik untuk menggerakkan sektor-sektor pembangunan. Pengaruh Barat sangat kuat, kapan saja mereka dapat melenyapkan Ahmed Bello (1966) dan Raja Faisal (th. 1975), memukul gerakan Pembebasan Palestina dengan mempralat Yordan (1971) atau mendorong Mesir untuk berdamai dengan musuh yang oleh Gamal Abdul Nasser dikatakannya "Kami ini adalah Firaun-Firaun muda... Kami akan melemparkan kalian kc dasar lautan."
2. Gerakan Konservatif.
Gerakan konservatif terlibat dari meluasnya sekolah-sekolah agama. Syekh Syibli An Nukaeni (1857-l9l4) sewaktu membangun sekolah agama Nadwatul Ulama di Lucknow mengatakaa “... Kebangkitan kembali bagi bangsa-bangsa bukan Islam bararti maju ke depan ,sedangkan kebangkitan bagi kita berarti kembali ke belakang ke zaman Nabi." Sekolah-sekolah yang didirikan disemua dunia Islam pada umumnya berdasarkan ide ini. Sekolah-sekolah yang tumbuh dengan subur itu bertujuan mendidik generasi muda tahu berbahasa Arab dan ilmu pengetahuan agama. Diharapkan sekurang-kurangnya dalam berfikir mereka dapat kembali ke zaman Nabi. Pendiri sekolah-sekolah ini berharap agar alumni yang mereka cetak dapat bertahan berhadapan dengan gelombang masa.
Gerakan ini betul-betul sukses dalam membentuk suatu jaringan sekolah-sekolah agama diseluruh penjuru dunia Islam. Dunia Islam rata-rata mempunyai alumni sekolah agama, tetapi dalam bidang pendidikan intelek dan pola pemikiran Islam, sukses yang dicapai masih diragukan. Alumni yang mendapat pekerjaan dari sekolah dimana mereka pernah belajar atau disekolah-sekolah lain yang serupa, tetap statis dan tak sanggup merubah tradisi yang pernah mcreka terima, karena tradisi ini. adalah modal mereka satu-satunya untuk bertahan. Selanjutnya alumni sekolah agama dan alumni bukan agama akhirnya tak banyak berbeda karena sama-sama bertujuan untuk mencari pekerjaan.
Hal ini disebabkan dua faktor:
- a). Tokoh-tokoh pendidikan agama kurang memahami bahwa pcndidikan agama bukan hanya terbatas pada pengajaran bahasa Arab dan ilmu agama, tetapi juga ikut menempatkan Islam pada posisi yang mantap dalam pola berfikir modern. Generasi yang dididik pada sekolah-sekolah agama biasanya menerima pendidikan Islam tradisional. Islam yang mereka pelajari tidak tinggal mantap di benak mereka. Mereka tidak dapat melihat Islam setaraf dengan pola pemikiran modern. Islam yang mereka pelajari tidak lebih daripada pelengkap dan sampingan bukan sebagai santapan otak. Landasan berfikir semacam ini tentu saja tak dapat bertahan berhadapan aura berfikir modern.
- b). Perubahan-perubahan yang terjadi akhir-akhir ini telah membuat pendidikan agama terputus dari masalah ekonomi. Fakta sejarah menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang tidak mempunyai dasar ekonomi tidak akan mendapat tempat yang berarti dalam pola kehidupan.
3. Gerakan Revival:
Yang penulis maksudkan dengan gerakan revival (menumbuhkan kembali) adalah gerakan yang bertujuan untuk mendirikan negara Islam. Menurut tokoh-tokoh gerakan ini, problem yang dihadapi oleh ummat Islam sekarang ini sebabnya adalah karena tidak adanya negara Islam. Kalaulah kita dapat mengatur masyarakat Islam dengan merealisir Syariat Islam semua problema dengan mudah akan dapat dipecahkan. Ummat Islam segera akan dapat merebut kembali posisi gemilang international seperti pernah dilalui oleh dunia Islam seribu tahun di masa lampau.
Gerakan ini mempergunakan terminology politik untuk memberikan interpretasi terhadap ajaran Islam. Cara ini banyak diterima oleh Ummat Islam pada permulaan abad ini sebagai terompet baru demi kebangkitan Islam. Dengan mudah gerakan ini dapat membuka stand Islam di pameran politik. Tetapi cara ini tidak banyak bertahan. Pola pemikiran yang berdasarkan interpretasi politik yang dianut oleh gerakan ini bertentangan dengan policy pemerintah dimana gerakan ini tumbuh. Bentrokan dengan pemerintah tidak dapat dielakkan.
Bentrokan ini sangat hebatnya, tak ubahnya bagaikan semangka bertemu dengan pisau belati. Seorang pemimpin Arab untuk mempertahankan posisinya menggertak lawan-lawan politiknya dan berusaha untuk mengusut siapa saja yang berani menantangnya.
Pemimpin politik yang mengendalikan ummat Islam sekarang ini rata-rata termasuk model itu. Keinginan mereka untuk memukul gerakan Islam selalu berhasil. Begitu parahnya pukulan yang diberikan kepada gerakan ini, sehingga tidak mungkin dikatakan bahwa gerakan tersebut akan mempunyai masa depan yang berarti di negara manapun.
Gagalnya gerakan untuk mendirikan negara Islam tidaklah hanya disebabkan oleh lawan-lawan politik Islam saja. Tokoh-tokoh gerakan itu juga ikut bertanggung jawab atas kegagalannya. Mereka bertolak dari dasar berfikir yang salah, yang mengatakan bahwa mereka sanggup mendirikan pemerintahan Islam dcngan hanya mengandalkan suara pemilih yang ada dalam satu negara. Mereka lupa fakta sejarah bahwa kelanjutan hidup suatu pemerintah selamanya berdasarkan pola pemikiran yang hidup di zamannya. Pola pemikiran yang hidup sekarang ini adalah pola pemikiran sekulerisme. Karena itu tidak mungkin membentuk suatu pemerintahan tanpa terlebih dahulu menghancurkan handicap yang ada dalam pola pemikiran modern ini.
4. Gerakan Membangun Kembali.
Gerakan membangun kembali adalah aliran fikiran yang tidak menginginkan bentrokan langsung untuk mengalihkan perhatian kepada sektor-sektor lain. Sayang sekali aliran semacam ini kurang menarik perhatian ummat Islam di abad ini.
Syekh Muhammad Abduh selagi tinggal di Paris (1884) pernah mengatakan kepada gurunya Jamaluddin Al Afghani. “Menggadakan bentrokan potitik langsung dengan Inggris dan Perancis tidak banyak faedahnya. Lapangan dakwah untuk kita di Eropa dan Amerika terbuka luas. Kenapa kita tidak menjauhkan diri dari politik saja dan mengalihkan perhatian ke bidang dakwah dan pendidikan." Sesuai dengan jiwa revolusionernya Al-Afghani, ajakan itu hanya dijawabnya dengan mengatakan, “Innama Enta Mastabbath" (tampaknya anda ingin mundur ke belakang).
Study kita mengenai gerakan-gerakan Islam yang muncul di zaman modern tidak memperlihatkan adanya usaha yang sungguh-sungguh untuk membangun Islam kembali. Tokoh Islam lebih banyak menyibukkan diri dan berkorban utuk pola pemikiran romantisme seperti yang dikatakan oleh penyair Persia. “Anda tak akan pernah cocok dengan masa, anda selamanya berkonfrontasi dengan masa'' Tak seorangpun tokoh Islam yang merasa terpanggil dengan nilai positif dari apa yang dikatakan oleh penyair India Hally (1837-1914), “Mengarahlah menurut arah angin''
Di India ada dua contoh yang mengikut cara ini. Otaknya dianggap sebagai pribadi yang tak mendapat nama baik yaitu Said Ahmad Khan (1817-1890) dan Mirza Ghulam Ahmad Al Qadhani (1840-1904).
Menurut Said Ahmad Khan, pemerintah Inggris telah menutup pintu berpolitik untuk kita tetapi nasih membiarkan pintu untuk membangun terbuka. Kita bisa maju ke depan tanpa halangan dalam sektor pendidikan dan ekonomi. Sektor itu penting yang menopang sektor-sektor lainnya.
Mirzas Ghulam Ahmad mencari kemungkinan dalarn sektor lain yaitu sektor dakwah. Dia melihat adanya kemungkinan untuk berdahwah di kalangan berbagai golongan dalam negeri bahkan kalangan penguasa sendiri. Dakwah menurut Mirza adalah salah satu tujuan Islam yang terpenting. Hasil yang dicapai dengan dakwah barangkali dapat mengimbangi kegagalan kita dalam bidang politik.
Gerakan ini kurang mendapat sambutan dari kalangan ummat Islam hal ini disebabkan dua faktor:
- l). Otak tokoh-tokoh dan ummat Islam pada umumnya telah dilingkari oleh pemikiran yang tidak senang dengan penjajah, karena itu tidak mungkin berfikir untuk mencari jalan lain. Orang yang tak bergerak untuk berjuang dalam bidang politik melawan penjajah dianggap sebagai kaki tangannya. Bahkan ada diantara tokoh-tokoh kita yang mengatakan bahwa buku Sir Thomson Arnold (bekas guru besar Islamic Collage of Aligar) yang berjudul “Preaching of Islam” ditulis untuk tujuan penjajah karena Arnold dapat membuktikan bahwa Islam tersiar dengan jalan damai, bukan dengan jalan kekerasan.
- 2). Tokoh-tokoh gerakan ini gagal dalam mempergunakan bahasa yang baik untuk ide yang dikemukakannya Ahmad Khan sikap dalam menetapkan pola pemikiran abad ke 19 dalam hubungannya dengan Islam. Dalam majalah “Tahzibul Akhlaq” untuk meyakinkan orang dengan niat baiknya, dia mengemukakan pendapatnya pribadi terlepas dari Islamic College of Aligar. Praktek semacam ini tampaknya tidak membawa sukses. Publik opini masih meragukan dakwah yang disampaikannya karena dia bertolak dari jalan berfikir yang tidak benar untuk membuktikan masalah yang mengandung kebenaran.
Mirza Ghulam juga melakukan kesalahan sama. Dia memulai dahwahnya sewaktu ummat Islam sedang sibuk dalam jihad melawan Inggris. Tokoh-tokoh pejuang ini menganggap bahwa Mirza sengaja mengalihkan perhatian ummat dari front perjuangan suci. Jawab Mirza adalah "perjuangan bersenjata bukanlah hukum agama yang tidak mungkin berubah.” Selanjutnya ulama malah mengatakan Mirza adalah kaki tangan penjajah. Dari sini Mirza melangkah lebih lanjut dengan mengatakan bahwa dia mendapat wahyu dari langit. Apa yang disampaikannya adalah perintah dari Allah. Hal ini tentu saja untuk meyakinkan publik dengan dahwah yang sedang disampaikannya
Sekian
No comments:
Post a Comment